“Television takes the process much further by make in people visually available, and not in the frozen modality of newspaper photographs, but in movement and action”
(Fairclough 1995, 38-9)
oleh; Abdul Rahman Sutara
(catatan dari orang yang masih belajar)
SiGI Community
Diera globalisasi saat ini, jelas sekali bahwa televisi sebagai sebuah saluran informasi memiliki kelebihan dibandingkan dengan media lainya. Menurut pakar televisi, Jhon Fiske, bahwa televisi merupakan “teks” yang dapat dibaca dan dimaknai secara luas. Situasi tersebut, tentu menjadikan televisi saat ini sebagai jendela dunia untuk setiap orang yang ingin mendapatkan informasi secara detail, ini karena penyaluran informasi melalui media televisi memiliki dua kekuatan pemahaman; audio dan visual.
Pada satu tahun terakhir ini, dua news Televisi di Indonesia mampu mengimbangi rating bahkan hampir mengalahkan program- program entertainment televisi. Kedua stasiun televise tersebut adalah Metro Tv dan TV One yang selama ini populer dengan program- program news & Informasi. Paling tidak ada dua factor pemicu utama yang menyebabkan naiknya rating program kedua stasiun televise tersebut ; (1) Penyajian program- program informasi dan News pada kedua stasiun Tv tersebut dikemas dengan sangat menarik dan inovatif sehingga penyajian programnya (namun bukan pada isi programnya) dapat menarik bagi semua kalangan masyarakat, karena selama ini program- program news & informasi hanya diminati oleh kalangan pendidikan dan ekonomi menegah keatas saja. (2) Penyajian informasi melalui dua stasiun Tv tersebut didukung oleh momentum/ kejadian- kejadian yang cukup monumental, misalnya; kasus skandal Bank Century dan perburuan kelompok teroris, dalam teori komunikasi dan wacana media ini disebut dengan dimensi isi dan situasional.
Namun, apakah suksesnya program- program news & informasi pada kedua stasiun televise tersebut menjadi tolak ukur atas era keterbukaan informasi saat ini? Terlebih lagi, apakah masyarakat Indonesia dan kelompok coorporasi televise telah memasuki era domokrasi informasi, sehingga orientasi keberadaan media sebagai informan connected antara kaum elit penguasa dengan masyarakat dapat secara fair terjadi. Untuk itu perlu kiranya menelaah kembali beberapa teori komunikasi media guna melihat posisi ideal media televise sebagai chanel- news maker dan masyarakat sebagai komunikan/news consumire
Berkaitan dengan proses pembentukan opini public melalui media, pakar teori komunikasi massa John Dewey melihat perkembangan kapasitas masyarakat telah melewati batas- batas, karena adanya sarana fisik komunikasi. Ini artinya, pembentukan opini public yang terjadi melalui proses diskusi kemudian disajikan melalui saluran media yang tepat (dalam hal ini televisi), maka dengan sendirinya ia akan membentuk kegiatan aktif dalam komunitas masyarakat penontonya. Senada dengan ini, dalam karya- karya lain pakar komunikasi modern, seperti Charles Horton Cooley dan Robert E. Park percaya bahwa media modern (dalam hal ini Televisi) dapat mewujudkan sebuah komunitas demokratis yang sebenarnya. Dengan kata lain, seperti yang ditulis dalam buku Jhon Dewey Media and the American Mind mengatakan bahwa; Komunikasi modern (salah satunya adalah televisi) secara mendasar berperan sebagai sebuah agen untuk memperbaiki konsesnsus politik dan moral secara meluas yang telah diancam oleh ganguan dari abad ke-19 berupa industrialisasi, urbanisasi, dan imigrasi.
Dalam paham kajian ilmuan komunikasi Kanada; Marshall Mcluhan, dengan teorinya yang terkenal technological determinism, yakni suatu pandangan dengan pendekatan cultural yang mengasumsikan teknologi membawa implikasi bagi perubahan cara hidup suatu masyarakat. Ini artinya, media komunikasi modern saat ini (salah satunya adalah televisi) tidak hanya bersfat teknis, namun melalui informasi- informasi yang disalurkan serta program- program yang disiarkan televisi (terutama program- program yang bersifat persuasif/ mempenaruhi opini publik) dapat memberikan pengaruh bagi perubahan social yang dikehendaki. Ini karena, menurut Marshall McLuhan dampak radikal yang dimunculkan oleh media terutama media teknologi modern (televisi) berdimensi pada ruang, waktu, dan presepsi manusia.
Menurut Deddy Mulyana, salah satu guru besar dan pakar Ilmu komunikasi d Indonesia menatakan; Dalam ilmu komunikasi, terdapat 12 prinsip komunikasi, diantaranya adalah Prinsip komunikasi dimensi isi dan dimensi hubunan. Teevisi sebagai salah satu media komunikasi, tentunya memiliki pesan yang akan disampaikan. Maka isi pesan dalam proram- program televisi merupakan dimensi isi, sedangkan Televisi sebagai alat (media) berposisi sebagai dimensi hubungan. Dalam hal ini, pengaruh suatu pesan akan berbeda bila disajikan dengan media yang berbeda pula. Misalnya, suatu cerita yang penuh dengan kekerasan dan seksualisme yang disajikan oleh media audio-visual (televisi) boleh jadi menimbulkan pengaruh yang jauh lebih hebat, misalnya dalam bentuk peniruan oleh anak-anak atau remaja yang disebabkan oleh tontonan sebuah televisi, bila dibanding dengan penyajian cerita yang sama lewat majalah dan radio.
Sama halnya dengan fenomena penyajian informasi & news di Indonesia (TV One dan Metro Tv) yang akhir- akhir ini meraih rating paling tinggi mengalahkan program- program acara Televisi lainya (menurut data Litbang KOMPAS pada pertengahan Februari 2010), hal ini dikarenakan disamping karena kemasan penyajian talkshow informasi dan news yang sangat inovatif, televisi juga memiliki sifat audio visual, sedangkan majalah dan koran hanya mempunyai sifat visual saja, dan radio mempunyai sifat audio saja. Berkenaan dengan ini, tidaklah mengejutkan bila Marshall Mcluhan mengatakan the medium is the message.
keren
Oleh: togi on Mei 29, 2010
at 10:00 pm
Atika Sunarya dan TV ONE adalah wartawan dan media televisi tolol dan dan bodoh dan harusnya diadili di PN pagi ini karena telah melakukan trial by the press. Atika Sunarya di TV ONE mengatakan bahwa Abu Bakar Ba’asyir “terlibat” aktivitas terorisme dan pendanaan terorisisme di Aceh. Atika Sunarya dan TV ONE tidak mengatakan “diduga/dituduh” terlibat …. Harusnya Atika Sunarya dan TV ONE yang diadlidi di PN.
Tak ada wartawan dan media di dunia ini yang berani melakukan trial by the press kecuali Atika Sunaray dan TV ONE. Bagaimana mereka tahu Abu Bakar Ba’asyir adalah teroris? Bagaimana Atika Sunarya dan TV ONE serampangan dan berani main tuduh dan mendakwa? Inilah sebuah bangsa yang sakit akibat media di negara ini sendiri yang tidak akurat dan terbawa misi pemfitnahan keji terhadap anak bangsa sendiri, tanpa bukti dan hanya berangkat dari opini yang sengaja dibuat untuk kepentingan tertentu. Adalah sembrono dan ketololan TV ONE. Media-media TV Barat yang sangat berani tidak pernah melakukan trial by the press dan selalu mengatakan “diduga” maupun disebut-sebut. Dan bila kita membaca di sebuah sumber penting, misalnya, di Wikipedia saja, tak ada yang berani mengatakan seperti Atika Sunarya dan TV ONE. Wikipedia menulis misalnya bahwa: “Abu Bakar Ba’asyir bin Abu Bakar Abud, biasa juga dipanggil Ustadz Abu dan Abdus Somad (lahir di Jombang, Jawa Timur, 17 Agustus 1938; umur 72 tahun), merupakan seorang tokoh Islam di Indonesia keturunan Arab. Ba’asyir juga merupakan pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) serta salah seorang pendiri Pondok Pesantren Islam Al Mu’min. Berbagai badan intelijen menuduh Ba’asyir sebagai kepala spiritual Jemaah Islamiyah (JI), sebuah grup separatis militan Islam yang mempunyai kaitan dengan al-Qaeda.” Abu Bakar Ba’asyir membantah karena dia memang bukan teroris. Dia hanya kiyai biasa, punya pesantren, untuk memberikan ilmu agama dan mencari nafkah keluarga dan saudara-saudaranya. Kami adalah wartawan-wartawan investigatif. TV ONE adalah sebuah penyebar kebohongan. Kita harus hati-hati dengan media-media buruk total seperti ini. Atika Sunarya dan TV ONE ternyata adalah wartawan pelanggar kode etik jurnalistik (universal) yang berlaku di seluruh dunia. Negara ini makin hancur karena ulah media-media lokal seperti ini.
Oleh: Karmila Hasibuan on Maret 10, 2011
at 5:11 am
to karmila Hasibuan..
meski pasca reformasi bergulir.. ruang keterbukaan media semakin luas, namun sistem yang terkait dengan pengawasan baik pemerintah maun lembaga independent lainya belum ada yang maksimal menjalankan kontrol media tersebut. Nah.. akhirnya banyaklah terjadi kasus- kasus seperti TV One dan Atika Sunarya tersebut..
Disamping itu.. pemahaman sdm insan televisi saat ini hanya terbatas pada pemahaman keahlian peraktis saja, namun mereka lalai atau mungkin lupa untuk juga memahami regulasi/ aturan etika media..
Oleh: gambaridoep on Maret 12, 2011
at 4:43 am