Oleh: gambaridoep | Agustus 19, 2009

JIKA SAJA MAKAN SIANG DI WARTEG ITU BERSAMA PRESIDEN

“Sebuah renungan untuk para pemimpin”
by; Abdul Rahman Sutara

,……..Hidup dan tinggal disebuah Negara yang besar dan kaya, berada dalam komunitas yang pantas dianggap mapan, karena usianya yang sudah puluhan tahun, ternyata belum mampu mejamin individu- individu yang berada didalamnya stabil. Dalam hal ini, tolak ukur sederhana stabilitas individu adalah kesejahteraan mikro; terpenuhi kebutuhan sandang, pangan dan memperoleh pendidikan setinggi-tingginya……….,

Sudahkah negara ini, bersama elemen- elemen komunitas social yang ada didalamnya menjamin stabilitas setriap indivu yang berada didalamnya?. Apakah bentuk- bentuk pembangunan dinegara ini, telah memberikan jaminan dan harapan hidup (Life expectancy) kepada rakyatnya?.

Bagaimana dengan elemen kelompok social yang berada didalamnya, yang senantiasa memberikan kontribusi berupa gagasan dalam sudut pandang Makro untuk negaranya, namun secara tidak sadar membiarkan individu- individu “kecil” (kadernya) hidup menggelandang, bahkan tak jarang “melacur” kapada kepentingan kelompok elit politik apapun asalkan bisa memberikan jaminan social kepada mereka.., Jika sudah begini, kemanalagi ibu pertiwi harus mencari pendekar- pendekar social disaat para “politisi pembangunan” sudah tak layak lagi menjadi pendekar dalam membangun bangsa ini. Masihkah bisa kita berharap pada para aktivis, karena sepertinya, merekapun sulit sulit meraih harapanya sendiri..

Inilah potret kaum bangsa yang kita cintai, ternyata harus jujur diakui; Kita belum mampu meraih kemerdekaan 100%, seperti yang dicita- citakan deklarator Indonesia untuk dunia; Tan Malaka.

Saat siang hari, sebelum pulang seperti biasa ”Dia” sempatkan diri untuk makan siang di warteg yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dahsyat betul suasana makan hari itu, “Dia” di temani oleh empat orang bapak- bapak yang kebetulan sudah lebih dulu berada disitu.., sambil makan siang kami menyaksikan sebuah berita politik tentang profile beberapa calon presiden dari salah satu stasiun TV swasta.

Heum… santap siang sambil menyimak berita politikpun terasa semakin hangat, saat bapak- bapak yang berada disitu menyimak dan mengomentari berita- berita politik yang muncul. Salah satu diantara mereka berujar; “aalah.., mau siapa aja yang jadi presiden, sama aja ko..,”, sementara yang lain menanggapi..”iya.., gak kayak presiden- presiden yang dulu, apalagi waktu zaman Gusdur, masih mending harga- harga gak terlalu mahal… sampe- sampe saya bisa beli TV”.., yang lain juga tak mau ketinggalan komentar…”Iya..ya.. zaman Megawati ko’ kayaknya masih banyak yang murah.., Eeeh.. pas zaman Bambang Yudhoyono malah musibah yang banyak….” Bapak- bapak yang lain, menanggapinya dengan sinis..”Lha.., kalo’ musibah sih itu urusan Tuhan… bukan manusia” sepertinya bapak- bapak yang satu ini Fansnya SBY… ujar dia dalam hati. Sambil menikmati menu balado tongkol, mau- tak mau “Dia” nikmati pula pembicaraan bapak-bapak tersebut sambil sesekali tersenyum dan berfikir “Oouh.. ternyata, kesejahteraan hidup serta kesanggupan mereka dalam membeli beberapa kebetuhan hidup merupakan jaminan yang selalu ingin mereka dapatkan dan rasakan dari para pemimpin mereka…”

Sebentar dulu, ceritanya belum selesai disitu. Keesokan harinya, kebetulan libur. Dan kebetulan juga “Dia” bangun pagi, kalau tidak salah waktu itu pukul 08.00. Belum sempat mandi, sambil memanaskan motor dan menikmati teh hangat dan rokok sebatang, lima menit kemudian ia bergegas menuju salon cuci motor di daerah kp. Utan. Setibanya disalon cuci motor tersebut, seperti biasa, patugas mengambil alih kunci motornya kemudian memindahkanya ke tempat steam. Sambil menunggu proses cuci motor selesai, “Dia” pun duduk disalah satu kursi depan sebuah kios. Sesaat kemudian, baru saja “Dia” hendak menyalakan rokok, terdengar suara menyapanya; “…. Ngopi bang…….??” Sebentar “Dia” diam dan merespon, “Ooou… ya boleh, kopi item ya.. jangan terlalu panas”. Lagi- lagi belum sempat dia menyalakan rokoknya.. pelayan kios itu kembali memnyapanya dan bertanya… “PMII UIN masih aktif bang,,,,,??” untuk yang satu ini “Dia” agak tersentak… beranjak dari duduknya menghampiri pelayan kios tersebut yang sedang membuatkanya kopi, dan bertanya “Sory… Lo anak PMII juga…??”. …….”Ia bang, dulu waktu semester II sampe semester IV saya aktif di PMII fakultas Adab, Saya juga pernah lihat abang.. waktu ngelantik anak- anak PMII komisariat Adab..” sambil mengambil kopi yang dibuatnya, “Dia” hanya tertegun sambil mengangguk- ngangguk dan menatap pria pelayan kios itu dengan seksama, berusaha mengingat- ngingat wajah pria itu, namun sayang tetap saja “Dia” tidak mampu mengingat keberadaan pria itu di komunitas PMII, dalam hatinya, “Dia” merasa malu dan bersalah karena tidak sempat mengenal pria pelayan kios tersebut (mudah-mudahan ini tidak Lebay)… ahh. Kemudian “Dia” bertanya kembali kepada pria pelayan kios tersebut…; “Terus, kuliah masih aktif…??” pria itu menjawab; “… duuh bang, gak di terusin, gak ada uang euy….” Aaagh… lagi- lagi “Dia” merasa malu oleh jawaban pria tersebut.

“Dia” bukanlah seorang pucuk pimpinan tertinggi, dia hanya seorang aktivis yang berusaha membagi waktu pengabdianya, untuk keluarga, Tuhan dan komunitas PMII yang telah menularkan “virus” anti diam kepadanya, meski terkadang “virus” itu telah membuatnya insomnia; dimulai dengan membenturkan kepentingan akal dengan hati. Saat itu, dalam benaknya, betapa beratnya setiap takdir kepemimpinan yang diterima dan diemban oleh semua umat manusia, jika salah satu dari tanggung jawab kepemimpinan tersebut lalai terlaksana. Meski level kepemimpinan tersebut hanya pada sebuah organisasi kemasyarakatan. Coba bayangkan, bagaimana jika dua situasi berbeda diatas dialami langsung oleh seorang pimpinan Negara, Preiden. Wallahua’lam..

Situasi ini, harus direnungkan untuk merumuskan kembali konsepsi kesejahteraan individu dan organisasi yang tidak melulu bergantung pada konsepsi politik dan stabilitasnya. Dalam hal ini, “Dia” hanya tidak ingin jika seorang aktivis atau seorang penggiat organisasi harus menjadi seorang “gelandangan” karena gagal dalam menghadapi persaingan social, terkecuali jika menggelandang untuk sebuah perlawanan, seperti Tan Malaka, atau kelompok gelandangan Yogyakarta ditahun 1980-1981 (Artijo Alkostar; Gelandangan, Pandangan Ilmu Sosial. LP3ES 1994). Tidak adalagi konsepsi kebenaran tentang “penganiayaan diri” sebagai doktrin perjuangan dalam organisasi kepada kader- kadernya!.

Harus di Ingat, aktivis adalah kaum yang mengerti serta luas pengetahuanya. Maka sangat aneh, jika ia masih belum sadar; bahwa situasi ketimpangan kesejahteraan yang hari ini dialami oleh individu di organisasi dan masyarakat luas, merupakan dampak dari sebuah sistem ekonomi yang sengaja didisen untuk menguntungkan kelompok- kelompok elit ¬coorporasi dan kelompok pengendali sistem relasi kekuasaan. Sungguh prihatin dan miris (rasanya… ingin sekali ku banting computer ini…) namun, terpaksa ku lanjutkan menulis. Jika dalam sebuah organisasi, praktek- praktek monopoli kesejahteraan dan eksploitasi potensi kader (malahan bukan mengembangkanya) dilakukan oleh seorang elit penguasa organisasi, bahkan terkadang oleh orang yang sok berkuasa diorganisasi tersebut, maka akan sulit dihindari keberadaan organisasi hanya akan menjadi “rumah” para gelandangan.

Sepertinya kita memang harus mengingat kembali, tentang teori konsepsi ekonomi; “…bukan pertumbuhan yang menciptakan kemerataan, melainkan kemerataanlah yang menciptakan pertumbuhan…”. Siapapun diantara kita yang saat ini dan esok akan menjadi pemimpin, berilah kesempatan secara luas kepada “mereka” untuk mengeksplorasi potensi dirinya, bukan menutupi ataupun menghalang- halanginya, sungguh tidak ada satu kesuksesan individu yang diraih dengan single experience melainkan karena semangat kebersamaan dan kolektivitas perjuangan.

“Dia” pun memaksaku menyelesaikan tulisan ini, karena “dia” mengerti; batin ku tak mungkin ‘tega’ menceritakan semuanya, sambil berpesan; “…Sahabat, diawal abad 21 tepatnya awal tahun 2000-an sekitar tahun 2008, kapitalisme liberal perlahan akan hancur, konsepsi ekonomi Third way ala’ Anthony Giddens meski mereka malu mengakuinya, telah gagal. Masihkan kita terjebak didalamnya, dengan prilaku- prilaku “sadar- tidak sadar” kita yang bergaya capital dan consumire ini… ”

Jika mungkin, hari- hari esok “Dia” tidak ingin lagi mendengar; “….Sobat, aku pinjem uang 20.000 dong, gak ada ongkos neh.. buat jalan ke acara bedah buku dosen ku…,“. Mari kita ingat kembali sebuah lirik lagu tentang pembebasan “… Hari- hari esok adalah milik kita,, Terciptanya masyarakat sejahtera,, Terbentuknya tatanan masyarakat…”. “Dia” hanya berharap, kelak suatu saat nanti, lirik lagu ini akan menjadi nyata, bagi dirinya, kelompoknya dan bangsanya…,
Wallahu a’lam Yaa Waduud…

Ciputat- Puncak, 12 Juli 2009
Ars,
SANY0838


Tanggapan

  1. sebenarnya pemikirannya mudah… mau atau tidaknya seseorang itu dimerdekakan… ga usah ambil pusing… banyak orang yang sukanya menuntut sesuatu tapi dia tidak mau memberikan sesuatu…
    disini gw pengen mempertegas…. ada anggapan kalau siapapun presidentnya pasti tidak akan membawa negara ini melangkah maju…. tapi gw berfikir sebaliknya… kalau rakyatnya seperti ini terus, aku yakin…. siapapun presidentnya pasti negara ini tidak akan maju…..
    awalnya banyak orang mengira kesalahan ini semua terletak pada kepemimpinan seorang president…. nyatanya tidak juga…. rakyat berkata ” saya belum merdeka”… tapi apakah dia mencoba untuk memerdekakan dirinya…. apa yang dilakukan semasa hidupnya sampai dia belum merdeka sampai saat ini…. dan apa yang dilakukan orang yang telah merdeka kepada orang yang belum merdeka… kalau aku bilang mengapa di negara ini tidak merasakan suatu dampak kemerdekaan….. karena masyarakat kita tingkat keegoisan dan kemalasannya masih tinggi….

    mengapa sby bisa jadi seorang president.. tapi kita tidak….
    mengapa luna maya bisa menjadi artis besar… tapi kita tidak…
    mengapa riri riza bisa menjadi sutradara hebat… tapi kita tidak…

    sebenarnya bukan tidak…. kata tidak itu bisa diubah kalau keegoisan kita dan kemalasan pada jiwa kita bisa kita kendalikan… padahal mereka mempunyai waktu sama seperti kita… 24 jam sehari, apakah mereka mempunyai jam lebih lama dari kita sehingga mereka memiliki waktu luang yang sangat baik sampai2 mereka lebih hebat dari kita, misal 30 jam sehari… aku punya suatu pedoman dalam hidup…. “Tuhan tak akan mengubah suatu keadaan manusia, jika tidak manusia itu sendiri yang mengubahnya”.

    aduh mungkin ada hal yang melenceng, tapi disambung2in aja ya…. hehehehe

  2. hluuuu kak abdul =)
    akhirnya mampir juga ke blogku..
    weee…
    waktu nulis ini kan pas ultahku..
    hehehe.. 12 juli…
    mana kadonya???

    mampir lagi ya..
    http://pelangiituaku.wordpress.com

    • heheh.., Beta bisa aj..,
      iyah.., anggap aja tulisan ini hadiah ulang tahun mu ya..,


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.